Sederet Kebahagiaan Tanpa Ada Kecemasan

Mau pamer kebahagiaan yang masih mengendap hingga sekarang di tulisan kedua ini, ah! Dimulai dari :

1. Di Akhir Juli kemarin saya sengaja install Instagram kembali hanya untuk menghubungi seseorang di Vihara Mendut, Magelang. Misi sukses! Saya bukan cuman dipersilakan datang, tapi juga dikasih kesempatan ngobrol dengan Bikkhu & Samanera di sana yang merupakan pengalaman pertama saya. Bahagia sekali.

2. Dilalah sebelum pergi ke Magelang, cuman perlu waktu setengah hari buat urus rapid test sekaligus kartu NPWP yang selama ini pending. Langsung deh sorenya pesan travel buat pergi ke Magelang besok! Bahagiaaa deh!

8 Agustus, 2020, pukul 9 pagi. Abis moto saya langsung ngomong pelan, “Lets go!”

3. Sampai Magelang, dapat penginapan unik dengan konsep serba kayu dan lampu temaram. Tenteram!

Nama penginapannya Omahe Nawung
Kondisi jam petang. Temaram.

4. Perasaan bahagia selama di Vihara Mendut benar-benar menyelimuti, batin dan kepala tenteram. Mengamati banyak patung, terutama patung Buddha. Mengamati pohon Bodhi secara langsung yang selama ini hanya saya ketahui dari bacaan.

Salah satu patung Buddha
Pohon Bodhi di dalam Vihara Mendut

Bahagia, betul-betul bahagia berada di dalam. Terlebih-lebih bisa berbincang dengan Samenara di sana mulai dari aktivitas sehari-harinya hingga bercerita tentang salah satu sculpture yang menggambarkan Brahmana Dona membawa relik Sang Buddha.

Brahmana Dona saat membawa relik Sang Buddha

Perbincangan kami cukup banyak. Eh banyak sekali malah, karena besoknya saya dipersilakan datang kembali ke Vihara. Ini membuat saya terkejut bahagia sih. Datang untuk apa? Ada deh! Yang jelas bahagia sekali.

Gapura Hening Karta, suasana pagi di Vihara Mendut.

Terima kasih kepada Bhante Santacitto dan pengurus Vihara Mendut yang mempersilakan saya berkunjung.

5. Selesai dari perhatian Vihara Mendut, saya bergegas menuju bandara Jogja dengan tujuan ke Makassar. Tiket pesawat dipesan di jam-jam mepet pada saat perjalanan Megalang-Jogja. Sukses! Nggak dipersulit. Nggak ada keterlambatan. Bersyukur sekali. Bahagia.

Yogyakarta International Airport, Kulon Progo
Di bagian teras, sebelum menuju pintu masuk check in.
Masih di Jogja ini. Nggak tau gunung apa.

6. Tiba di Makassar, langsung makan Coto. Sudah lama sekali mengidamkan makanan satu ini. Besoknya, saya dapat job menarik sesuai bidang saya, website. Lucunya, kami kasih harga dengan penawaran 1,5juta, itung-itung dipromosikan, eh tapi client kasih nego 2 juta. Wkwkwk.

Coto Makassar
Baru pertama kali dapat nego macam gini hehe

Bahagiaaaaa ya? Ohyaaa tentu!

7. Karena pekerjaan website, maka kembali berpartner-ria dengan Kak Mirwan. Kembali menikmati ketawa durasi panjang dari awal hingga akhir pertemuan. Kerjanya dikit yang penting endingnya kelar! Ini uniknya kami berdua. Bahagiaaaaa lah!

Ini sih ketawa normal. Biasanya dia ketawa ngakak dalam kondisi menggelindingkan tubuh.

8. Ngopi sekaligus tinggal di Ambeso. Inilah tujuan utama saya datang ke Makassar. Bertemu orang-orang di sana seolah bertemu keluarga sendiri.

Di lantai 2 tempat saya bekerja, kini tersedia sebuah modem pemancar signal. Serius, ini sangat bisa menunjang pekerjaan saya ketimbang di tahun sebelumnya saya dibuat kewalahan karena jauhnya jarak modem signal dengan tempat saya bekerja.

Kebahagiaan kembali menyelimuti.

Americano khas Ambeso Coffeeshop. Kopi Toraja asli!

9, 10, 11, dan sejumlah kasus kebahagiaan lainnya yang sifatnya masih semu dan belum pede saya ceritakan.

Luar biasa! Semua rencana berjalan mulus banget karena sesuai harapan. Nggak ada penyesalan sedikitpun. Betul-betul bahagia saat menyadari seolah sedang menerima kebahagiaan bertubi-tubi, seolah nggak ada rintangan menyertai yang membuat kecewa.

Ya, tadinya saya pikir begitu. Terus membatin, kok enak ya bahagia terus?

Tapi setelah direnungi, ternyata ada penderitaan yang saya alami. Buat saya memikirkan satu hal itu-itu saja dan terus-menerus di segala macam aktivitas adalah bentuk penderitaan. Apalagi cara memikirkannya hingga menimbulkan kecemasan.

Awalnya terasa menyenangkan ketika membolehkan satu hal ini menjelajah pikiran. Tapi kalau nggak bisa kendalikan pikiran dan perasaan kok jatuhnya cemas? Jangan-jangan akan terjadi begini, jangan-jangan bukan sesuai harapan, jangan-jangan yang saya lakukan adalah keputusan salah, dan jangan-jangan lainnya.

Sederet jangan-jangan itu muncul terus-menerus, berbulan-bulan, terutama ketika saya bengong atau hendak tidur. Semakin dipikirkan semakin cemas. Duh!

Ini yang saya alami selama berbulan-bulan dari sejak di Tegal hingga awal datang ke Makassar. Bahkan hingga sekarang, hanya saja kadar cemas sekarang semakin berkurang.

Serius cemas sampai berbulan-bulan? Oh iya, serius! Ini karena saya punya obses untuk terus berpikir dengan landasan niat baik. Saya memerhatikan kembali, apakah ada niat buruk? Nggak ada!

Apapun hal ini, pokoknya sebuah hal, sebuah masalah yang selalu susah saya atasi. Jika ada konsep atau teori yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki kelemahan dalam menyikapi satu atau dua masalah, mungkin bisa dibilang dari dulu kelemahan saya hanya pada satu masalah ini.

Harusnya kondisi bisnis kacau dan cukup kehilangan banyak uang yang sedang terjadi sekarang adalah bentuk kecemasan saya. Iya, harusnya. Tapi nyatanya enggak. Nyatanya bisnis kacau buat saya menjadi suatu ritme menarik dan saya senang sekali mendapati kekacauan ini. Sekalipun sudah menghabiskan puluhan juta dalam hampir satu tahun terakhir. Wuih!

Hidup memang bukan seharusnya, tapi senyatanya.

Syukurlah saya nggak punya utang! Tapi malah ngutangin. Itu yang bikin saya bertahan di bisnis sampai sekarang! Wah, I love my self-lah pokoknya! Hehe

Sekarang yang jadi pertanyaan, bisakah manusia hidup tanpa kecemasan?

Nggak bisa! Saya percaya semua manusia memiliki kecemasan, was-was, kekhawatiran, atau kegelisahan. Inilah masalah yang dialami semua manusia. Yang muda hingga lanjut usia memiliki kecemasan dengan kadar yang berbeda.

Saya punya seorang kawan yang sering membahas soal kecemasan ini dengan pengetahuan psikologis dan spiritualnya. Tapi saya nggak menjelaskan dari sisi psikologis karena terlalu susah buat saya menjelaskan. Lebih baik menyampaikan melalui kejadian-kejadian nyata yang kita alami. Semoga kita bisa merefleksikan ke diri sendiri dan bertanya-tanya, mengapa bisa cemas begitu?

Bahwa sesungguhnya kecemasan di dunia terbagi menjadi 2. Pertama kecemasan karena masyarakat ; dikucilkan, dibenci, dihina, dan lain sebagainya.

Yang kedua kecemasan tentang apa yang akan kita alami di hari-hari nanti ; nanti ada di mana, dalam kondisi bagaimana, bersama siapa, bisakah melaluinya, dan lain sebagainya.

Dan sesungguhnya kecemasan terjadi karena ulah pikiran.

Pikiran itu sangat cepat dan sangat kuat dalam memengaruhi perasaan. Ini juga berhubungan dengan mood. Mood berantakan terjadi karena jasmani dan pikiran kita tidak tertata. Semua langkah yang kita lakukan terburu-buru, mengerjakan sesuatu sembari melakukan hal lain secara bersamaan, dan ini yang bikin kehilangan kesadaran, nggak fokus, akhirnya secara nggak sadar mood akan berantakan, kemudian cemas.

Apa kecemasan bisa hilang? Sangat bisa! Karena semua perasaan sifatnya akan muncul, mengendap, lalu hilang. Kalaupun susah, setidaknya kadar cemas bisa dikurangi. Meskipun seringkali susah dalam menghilangkan kecemasan. Tapi yang jelas bisa hilang.

Caranya, ya harus belajar mengendalikan pikiran dan perasaan.

Satu hal yang perlu kita ketahui bersama ketika mengalami kecemasan, yaitu kita harus senantiasa terus memeriksa kehendak atau niat kita sebelum bertindak. Apa diniati karena benci, serakah, atau baik? Kalau niat baik, selesai. Orang memberi tanggapan apa, biarlah jadi urusannya. Kita nggak bisa mengatur orang lain sesuai yang kita mau.

Saya pun sempat lupa untuk mengoreksi niat saya kemarin hingga terjadi kecemasan berbulan-bulan yang disertai jangan-jangan. Setelah dikoreksi kembali, yakin bahwa nggak ada niat buruk, ya sudah, kecemasannya berkurang dan lama-lama akan hilang. Meskipun kalau dikatakan masih memikirkan, masih kok!

Kamu dan saya punya kecemasan dalam kasus dan kadar yang berbeda. Semua orang punya. Nggak apa-apa. Terimalah sebagaimana adanya karena konsekuensi 8 kondisi dunia di mana semua manusia mengalaminya baik menjadi korban maupun pelaku, yaitu suka, duka, untung, rugi, terkenal, tersisih, dipuji, dan dihina.

Manusia tidak bisa menghindari 8 kondisi dunia ini.

Buat saya sih kecemasan adalah bentuk dari kegagalan respon pikiran dan batin bekerja. Untuk kasus saya, bukan masalahnya yang disalahkan, bukan pihak lain juga yang disalahkan, tapi pikiran dan emosional saya.

Kalau kata Dalai Lama dan Haemin Sunim juga begitu. Segala sesuatu yang bersifat perasaan itu fana. Sakit hati juga fana. Yang ngada-ngadain adalah pikiran kita sendiri.

Sekali lagi, saya setuju bahwa nggak ada manusia yang hidup tanpa kecemasan. Setiap manusia memiliki kecemasan. Kita nggak tau orang-orang kalau bengong atau mau tidur mikirin apa. Makanya salah sih kalau kita menilai “hidupnya dia kok ena bgt! Ngga kayak aku!”

Untuk kasus saya, cukup fair ketika mendapati bahagia sekaligus mendapati kecemasan. Toh yang cemas bukan cuman saya, bukan cuman kamu, semua manusia. Maaf-maaf aja, kalau mau bahagia terus, mau mendengar berita baik terus, mending hidup di surga aja!

Saya rasa inilah salah satu alasan manusia sebagai makhluk menarik ketimbang makhluk lain. Nggak kebayang kalau disuruh jadi malaikat atau dewa! Karena di alam mereka sulit melihat perubahan. Sulit melihat duka atau kecemasan. Nggak ada kecemasan, maka nggak ada persoalan, nggak ada semangat, nggak ada tantangan, nggak ada kebijaksanaan yang muncul. Baiknya bertemu cemas agar kita bisa belajar mengendalikan diri supaya cemasnya tidak menjalar ke mana-mana.

Dan pada akhirnya doa hanya membantu emosi kita agar tidak cemas. Tapi teruslah berdoa, teruslah belajar mengendalikan pikiran. Semoga semua makhluk hidup berbahagia!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *