Jalani Hidup Bukan Hukuman-Hadiah, Tapi Sebab-Akibat

Mungkin nih ya, jauh sebelum dilahirkan, manusia pada umumnya berpikir jika dirinya mendapat keuntungan, pekerjaan lebih baik, kehidupan maju, naik pangkat, makmur, dan jenis kesuksesan material lainya, kebanyakan akan berpikir ini adalah hadiah. Berkah dari sosok yang tidak tampak, Maha Kuasa atau Maha Brahma, dan lain-lain sesuai keyakinan agama masing-masing.

Jika mengalami musibah seperti usaha menurun, kegagalan cinta, manusia pada umumnya akan berpikir dirinya sedang dihukum atau diberi cobaan. Kalau di Jawa biasa dikatakan kena bebendu.

Sesungguhnya jalan hidup kita ini bukan hadiah-hukuman, tetapi sebab-akibat.

Ada seseorang pria sudah sepuh dan tinggal di Magelang, pernah mengatakan, “hidup itu bukan hukuman-hadiah, tapi sebab-akibat.”

Ia menjelasakan dengan pemahaman sederhana dan penuh perhatian agar saya bisa memahami uraiannya.

Katanya, segala kehidupan di dunia ini berjalan tanpa adanya hadiah maupun hukuman. Yang ada hanya konsekuensi dari perilaku manusia. Sederhananya kalau banyak melakukan hal baik, maka kehidupan mendatang akan maju, berhasil, sukses. Sebaliknya kalau sembrono, malas, suka berbuat yang tidak baik, maka kehidupan mendatang akan hancur.

Sesimpel itu!

Tau makna tersebut buat saya jadi sadar, ketika mendapat masalah, semua bersumber dari diri sendiri, bukan orang lain. Seperti kerjaan saya berantakan dalam waktu cukup lama. Itu karena ulah saya sendiri. Mungkin karena niat awal nggak baik atau mungkin kurang kerja keras. Banyak hedonnya kali!

Kalau dipikir kembali, melihat pekerjaan saya yang seputar digital marketing, sudah menjadi hal wajar bila performa turun drastis, atau bahkan hilangnya pendapatan. Wajar sekali! Nyatanya, banyak kok kasus orang berbisnis mengalami masa naik-turun, naik-stagnan, hingga naik lalu turun dan menghilang.

Contoh lain yang sering terjadi juga seperti putusnya hubungan asmara. Seseorang mengalami patah hati akibat dikhianati, merasa dibohongi oleh mantannya, lalu marah dan kehidupannya berantakan hingga memusuhi mantannya, bahkan memusuhi dirinya sendiri.

Kalau mau membuka mata, bukannya hubungan ada pertemuan-perpisahan? Bahkan ini berlaku untuk hubungan pertemanan juga?

Mungkin banyak dari kita yang masih berpikir jika kesuksesan yang diraih adalah hasil dari berkah atau rahmat. Sementara kegagalan yang didapat dianggap sebagai hukuman, punishment, bahkan tidak sedikit yang mengganggapnya sebagai kutukan.

Sederhananya, kalau maju, ya berkah atau hadiah. Kalau gagal, ya hukuman atau cobaan.

Padahal kalau mau bicara secara inteletual atau nalar, manusia yang hidupnya sejahtera itu karena akibat perbuatan baik di masa lalunya. Keuletan. Usaha yang sunguh-sungguh. Tidak ada kerja keras yang membohongi.

Sementara manusia yang kehidupannya hancur itu akibat perilaku sembrono di masa lalunya. Tidak ada perbuatan buruk yang menumbuhkan kebahagiaan.

Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah manusia bisa menerima pandangan sebab-akibat?

Sulit!

Sebagian masih bisa menerima konsep pemikiran hadiah-hukuman. Pokoknya kalau usaha kita maju, ini berkah. Giliran kena musibah, ini kena bebendu.

Kita sulit sekali diajak bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.

Saya pun ketika tau pengertian ini jadi kaget, ada rasa tidak terima karena cukup lama terkurung oleh pemikiran hidup itu hadiah-hukuman. Maka dulu ketika lagi sakit atau bisnis lagi kacau, saya berpikir bahwa ini cobaan atau hukuman. Efek buruknya, saya bisa hilang kesadaran untuk segera membenahi agar tidak terulang lagi.

Mengubah pemikiran sebab-akibat memang tidaklah mudah. Karena kita juga harus menerima pernyataan bahwa hidup itu bukan “seharusnya,” tapi ”senyatanya.” Kalau di Jawa biasa disebut Kasunyatan.

Harusnya dia jodohku, nyatanya bukan!

Harusnya itu rejekiku, nyatanya menjadi rejeki orang lain!

Berpikirlah senyatanya, bukan seharusnya, niscaya kita akan lebih bisa menerima kenyataan.

Ya ya ya. Sulit sekali memang menerima kenyataan. Tetapi meskipun sulit, bukan berarti tidak bisa berubah. Caranya, ya kita harus belajar dengan mencoba membuang pemikiran hukuman-hadiah dan menggantikannya menjadi sebab-akibat. Pelan-pelan. Dilatih dengan keuletan. Berpikir bahwa tidak ada hukuman. Yang kita alami adalah perbuatan kita sendiri. Hanya saja masih banyak yang tidak bisa menerima.

Kita bertanggung jawab atas perbuatan hukuman kita sendiri. Ini hukum alam. Universal. Bukan untuk kaum tertentu, melainkan semua manusia. Bukan hadiah atau hukuman.

Kita tidak perlu memohon berkah atau ampunan. Cukup dalam pengertian, jika sadar telah melakukan perbuatan buruk, maka ubahlah sesegera mungkin. Jika melakukan kebajikan, terus dorong hingga terus berbuat bajik. Orang bisa sukses sekarang karena dia berhasil mengambil deposito kebajikan yang sudah dilakukan di kehidupan sebelumnya.

Tak perlu marah, tak perlu memusuhi. Ya tapi kita manusia. Benci sama seseorang, benci sama keadaan, sudah naluriah. Saya pun begitu.

Di akhir penjelasan, seseorang sepuh tersebut mengatakan soal Karaniya Metta Sutta dengan penjelasan sangat sederhana ; bolehlah kita sebagai manusia marah atau benci jika kendali diri sudah tak tertahankan. Bolehlah. Tapi jangan sekalipun mengharap yang kita benci akan celaka!

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *